Tuesday, August 22, 2006

Berhentilah merokok

Beberapa hari lalu ada kabar bahwa seorang teman terkena serangan jantung koroner. Kaget. Dia masih sangat muda, 33 tahun. Rupanya ini penyakit yang juga diderita alm kakek dan alm ayahnya. Tapi apa memang hanya itu penyebabnya lantas dia terkena serangan jantung ini?Rupanya tidak. Ada penyebab lainnya: rokok. Teman ini memang perokok berat.
Saya terus terang benci dengan rokok. Bagaimana tidak, banyak anggota keluarga dan kerabat menderita sakit dan penyebab utamanya adalah rokok. Memang rokok tidak secara serta-merta membunuh si penikmat, tapi dia merusak tiap organ tubuh secara kontiniu. Kalau tidak percaya, ini ada salah satu info dari sekian juta informasi tentang bahaya rokok bagi kesehatan, coba klik di: health effects of smoking.
Papa saya termasuk perokok berat. Dia mulai merokok sejak tingkat sekolah menengah pertama. Lalu aktivitas merokoknya semakin menjadi saat kuliah dan mulai mengajar. Alasan papa sih karna beliau penulis dan pengajar jadi sang rokok dibutuhkan untuk mengeluarkan inspirasi-inspirasi dan memberi ketenangan batin. Begitukah? Syukurlah di tahun 1977 saat kita di Penang, Malaysia, papa pelan-pelan berhenti merokok dan berhasil berhenti total tak lama kemudian. Mau tahu apa yang menyebabkan papa berhenti merokok? Ternyata papa malu dengan teman-temannya di sana yang bebas rokok dan kerap menceramahi papa tentang bahaya rokok. Tapi sayangnya selama bertahun-tahun racun-racun rokok sudah banyak yang mendekam di tubuh papa dan terutama merusak kondisi ginjal papa.
Mama juga perokok. Bedanya, papa berhenti merokok saat di Penang, sedangkan mama justru mengenal dan menjadi penggemar rokok saat di Penang. Ini karna pertemanan juga rupanya. Saat di Penang mama aktif di kegiatan dharma wanita dan ibu-ibu konsulat Indonesia. Hampir semua teman-temannya perokok. Maka mama berhasil tergoda. Yang membuat mama belajar berhenti merokok karna di tahun 1997 mama terkena serangan jantung--ada penyempitan pembuluh darah di jantungnya. Dokter benar-benar memberi ultimatum bahwa mama harus berhenti merokok.
Saya tahu pasti berat buat seseorang yang sudah menjiwai rokok jika harus berhenti. Bahkan saat sempat suntuk di Bergen saya juga terpikir untuk melampiaskannya lewat merokok. Tapi syukurlah niat itu tidak terwujud karna harga sebungkus rokok mahal sekali di sana:) Lagi pula saya sudah kadung membenci rokok.
Walau sulit untuk berhenti merokok, tapi saya yakin pasti bisa. Jangan tunggu sampai terserang penyakit lalu kemudian menyesal tak putus. Kelompok pertemanan yang bebas rokok pasti bisa membantu mengubah kebiasaan ini pelan-pelan. Saya juga senang jika ruang bagi perokok semakin dipersempit, jangan biarkan mereka merokok di tempat-tempat publik. Berhentilah sekarang dan jangan pernah mencoba lagi. Stop smoking now!

2 comments:

Lia Marpaung said...

gue termasuk bebas rokok lhoh tel, jadi kita tetep bisa berteman khan ??? hehehe

Stella Aleida Hutagalung said...

wahahaha..aku sih gak anti sama perokok, tapi benci sama rokok. dulu udah biasa malah berhadapan dgn boss yg perokok:) it's oke Li;)