Tuesday, November 21, 2006

Mama

5 November lalu mama berulangtahun ke 62. Saya sangat bersyukur untuk pertambahan usia mama. Mama pernah sakit parah. Mama mendapat serangan jantung di pertengahan tahun 1997. Saat itu saya berencana memijat mama karna mama merasa masuk angin. Tapi ternyata tiba-tiba kedua tangan mama membengkak dan berwarna biru lalu mama terkulai lemas. Segera saya mengubungi ambulans. Kebetulan anggota rumah lainnya sedang beraktivitas di luar malam itu. Syukur mama bisa sembuh sampai detik ini.
Mama, sosok yang sangat dekat sekaligus sangat jauh buat saya. Sejak kecil hubungan saya dengan mama sangat akrab. Saya selalu menceritakan apapun yang saya alami di sekolah dan apa yang saya alami bersama teman-teman sepermainan di lingkungan rumah. Kebiasaan itu tiba-tiba saja berhenti sejak saya memiliki pacar saat kuliah. Yah,hubungan kami mendadak jadi jauh. Penyebabnya adalah karna pacar saya waktu itu berbeda suku. Ketidaksukaan mama membuat saya benci dengan cara pemikiran mama yang masih memandang kesamaan suku adalah syarat mutlak untuk suatu hubungan. Saya mulai memberontak. Saya tidak pernah lagi menceritakan ke mama hal-hal penting yang saya alami. Rindu? Pasti. Apalagi jika melihat beberapa teman bisa dengan mesra menceritakan kepada ibu mereka tentang pacar mereka.
Tapi kemudian kejadian di tahun 1997 membuat saya terhenyak. Mama yang di mata saya sangatlah super (karna mama gak pernah kelihatan letih, selalu tough dan bisa dibilang galak) ternyata menjadi begitu lemah saat itu. Memeluk mama saat dia hampir kehilangan nyawanya merupakan saat yang sangat mencekam. Saya kemudian sangat memperhatikan mama. Hm,tapi bukan mama namanya kalau bersedia dimanja-manja. Setelah pengobatan selama setahun dan mama merasa kuat mulailah lagi mama mau muncul sebagai figur yang tough dan tidak boleh dibantah dalam berargumen.
Pantangnya mama dibantah adalah penyebab lain saya jarang bisa menceritakan sesuatu ke mama. Saya paling sering cepat naik tensi kalau harus mempertahankan pendapat saya di hadapan mama karna kita sering berbeda pendapat. Tapi ada satu hal memang yang selalu bisa membuat kita dekat kembali: selera yang sama. Untuk urusan belanja pasti mama akan memilih saya sebagai teman, karna dia selalu percaya dengan taste saya,haha.
Tapi tanpa disadari memang meskipun saya sering berbantah dengan mama justru sayalah sebenarnya yang paling banyak mendapat kesamaan sifat dengan mama. Sifat ngotot saya,sangat pasti itu dari mama. Keras (cenderung dibilang galak)..hm,itu juga saya dapat dari mama. Masih banyak sifat lain sebenarnya, tapi satu yang sangat jelas adalah bakat meng-organize suatu event. Mama sangat ahli menkoordinir dan membuat suatu acara. Makanya mama langganan jadi ketua panitia atau sie acara untuk kegiatan keluarga, sekolah dan gereja. Ternyata saya juga punya bakat seperti itu,hahaha.
Hal yang mama selalu tekankan buat kita anak-anaknya adalah harus kuat dalam iman, mendapat hasil yang terbaik untuk pendidikan, tidak lupa dengan adat istiadat dan menjaga hubungan baik dengan keluarga besar. Mama memang mencontohkan ini dengan baik buat kami sekeluarga, bahkan dalam keluarga besar. Tapi ini jugalah yang menjadi dinding pemisah antara hubungan saya dan mama. Fanatiknya mama dalam menekuni iman Kristennya dan setianya mama dalam urusan adat membuat mama lupa bahwa kasih Tuhan maha luas, tidak terbatas hanya untuk orang beriman kristen atau bersuku batak saja.
Tahun 2004, saat saya kuliah di Bergen, ketika itulah hubungan kami mendekat kembali. Jarak yang begitu jauh membuat kami rindu untuk menceritakan banyak hal. Tapi topik tentang hubungan saya dan pacar yang beriman Islam tidak pernah digubris mama. Ketika alm bang Gum pergi saya merasa hubungan kamipun makin dekat. Hal yang paling menggembirakan saat saya penelitian di Ambon. Suatu waktu saya absen menelepon rumah selama seminggu karna saya berkunjung ke kota Ihamahu di Saparua yang tidak ada sinyal. Lalu ketika saya menelepon rumah dan mama yang mengangkat telepon tiba-tiba mama langsung berteriak dan mengatakan, "mama kangen, lama sekali kamu gak nelepon". Wah,tak terbayangkan, hati saya melonjak bahagia mendengar kalimat itu dari mama.
Ah, banyak sekali cerita tentang mama. Begitu banyak teladan yang sudah dia beri. Merawat papa yang sudah sepuh dan sakit, mama sangatlah sabar. Tiap hari mama khusus bangun sangat pagi agar bisa menyiapkan makanan papa (yang banyak pantangannya karna sakit penyakitnya) juga makanan untuk di rumah. Lalu pergi mengajar. Rumah selalu rapih di tangan mama. Masakan yang mama olah selalu nikmat. Tapi memang sampai detik ini mama belum bisa menerima jika anaknya membantah dan punya pemikiran yang ekstrim berbeda dengan dia. Sayalah anaknya mama yang sering punya pilihan bersebrangan dengan mama.
Mama memang keras pada anak-anaknya. Tapi saya yakin itu semua karna rasa cintanya yang begitu mendalam. Didikan yang sudah mama peroleh dari ompung-ompung saya memanglah sulit untuk dikacaukan oleh pemikiran yang baru dan moderat. Buat mama konservatif dalam pemikiran adalah pilihannya. Saya memang tidak berharap mama banyak berubah, hanya ingin mama kelak bisa menerima jalan pilihan saya dan percaya bahwa anaknya sanggup menjalani semua dengan baik.

Saat di Bergen tiap mendengar Il Divo menyanyikan lagu "Mama" pasti saya ingat mama dan merasa rindu sekali.
Mama, semoga hubungan kita bisa semakin dekat. Dan saya benar-benar berharap you are happy with your life and my life. I love you so much, Mom! Again, happy bithday.

Mama, thank you for who I am
Thank you for all the things I'm not
Forgive me for the words unsaid
For the times I forgot
Mama remember all my life
You showed me love, you sacrificed
Think of those young and early days
How I've changed along the way
And I know you believed
And I know you had dreams
And I'm sorry it took all this time to see
That I am where I am because of your truth
And I miss you, I miss you

Mama forgive the times you cried
Forgive me for not making right
All of the storms I may have caused
And I've been wrong, Dry your eyes
Cause I know you believed
And I know you had dreams
And I'm sorry it took all this time to see
That I am where I am because of your truth
And I miss you, I miss you

Mama I hope this makes you smile
I hope you're happy with my life
At peace with every choice I made
How I've changed along the way
Cause I know you believed in all of my dreams
And I owe it all to you, Mama

9 comments:

Lia Marpaung-Abidin said...

stella, am so touched reading this. i know it may sometimes difficult for you to be close or to undertand ur mom. sesungguhnya dengan mama tellapun pasti juga susah untuk dapat mengerti "pemikiran" anaknya. yach, namanya jg sudah 2 generasi yg berbeda. jembatannya cuma : kasih.

stella, kadang kita suka cemburu ya dengan teman kita yg dekat dengan ibunya. atau kalau kita lihat seorang ibu yg sptnya sangat pengertian banget dengan anaknya. kok ga seperti itu ya ibu kita ? tapi percaya deh, bagaimanapun ibu kita, dengan segala yg menurut kita adalah kelemahannya, dia adalah ibu kita. milik kita. dan ibu spt dialah yg terbaik buat kita.

tidak selamanya beliau akan ada bersama kita, tel. Satu waktu nanti waktu juga yg akan memisahkan kita. semoga diwaktu sekarang ini, tella diberi hati yg bijaksana dan kepekaan untuk dapat memberikan yg terbaik buat mama.

tella, ur mom is very unique person. she has her own style to show her love. so learn to understand her style. I know it from the first time i met her. u are very lucky person to have her in ur life, tella.

kembang_jepun said...

hikshiks..terharu deh baca postingan ini. Tentang ibu. Jadi ingat malam ini aku telpon rumah (di Indonesia jam 5 pagi). Ternyata ibuku lagi ke pasar. hiks..ibuku puluhan tahun belanja ke pasar di pagi buta, pulangnya nyiapin sarapan,beres-beres rumah, gak ada istirahatnya..salam kenal buat mama ya mbak. Mama is the best pokoknya..

Utami said...

Stella,
hmmp wordless deh pas baca postingan kamu ini. Sampe ikut kangen sama ibu di rumah (ps: Nurul juga kan ya).

Salam kenal buat Mamanya Stella ya ;)

Btw, Stella, boleh dong minta dikirim lagunya Il Divo yang judulnya Mama..jadi penasaran ;)

Stella Aleida Hutagalung said...

Lia,iya,aku mulai bisa ngerti kok pemikiran mama. Cara penyampaian kita berdua aja yang sering gak nemu. Sifat sama lainnya dari kita berdua adalah kita sama2 sensy:) Mudah2an ya tiap hari bisa aku dan mama gunakan untuk bisa saling memahami dan makin dekat. Itu doaku.
Nurul,yap mama is the best. Kebayang gak sih mamaku udah hampir 40 tahun take care of this family dan dia gak pernah ngeluh meskipun harus selalu bangun pagi urus sana-urus sini,termasuk ke pasar:)Dan yg utama ngurus papa dan kita anak2nya sampai segede ini, dan sekarang ngurus cucu2nya.
Tami,ntar aku kirim ya lagunya. Pasti deh kamu suka. Apalagi suara 4 cowok ganteng IlDivo super keren:)
Makasih ya semua jadi kenal dgn mamaku.

Anonymous said...

udah telat lama, tapi selamat ultah untuk mama kamu, tetap diterima kan? bicara tentang mama, hem...menurutku mama adalah mahkluk yang aneh, karena sesebel sebelnya sama dia, tapi toh perasaan rindu kepadanya nggak bisa dibendung. menjadi mama, kubayangkan suatu saat nanti, anakku bakal berpikiran 'uh, mama nyebelin banget' nggak ya?

Stella Aleida Hutagalung said...

Sinta! Thx for the bday greeting for my mom. Aku juga mikir, kelak kalo aku jadi mama pasti juga ngadapin kesulitan dalam berkomunikasi dgn anakku..hm. Berat ya jadi orang tua...

Utami said...

Stella,tusen takk,terima kasih banyaaaaaaaak,matur nuwun yaaa untuk lagunya plus perjuangan kemaren dalam mengirim lagu via internet.
You are absolutely right,i love the song..although made me bit ihiks ihiks but it was splendid in a way!

ps:hope there will be tilbud neeh buat CDnya il divo ;)

Stella Aleida Hutagalung said...

Varsegud dear. Seneng akhirnya dirimu bisa denger lagu itu.
CD2 Il Divo tuh temanku menjelang tidur saban hari selama semester akhir di Bergen. Suara mereka cocok banget utk pengantar tidur, apalagi lagu2nya bagus2. "Mama" is a very touching song indeed. (Moga2 ya ada tilbud dan harga CD il divo mendadak jadi murah:))

ewink said...
This comment has been removed by a blog administrator.