Thursday, June 12, 2008

Increase women's role in decision making and peacebuilding processes

An article regarding a two-day conference entitled “The Role of Women in Cross-Cultural Dialogue" held in Baku, Azerbaijan, was posted in The Jakarta Post Daily, 11 June 2008. This came to my interest as the title “Increase women’s role in decision making and peace-building process” was as well stated in the recommendations’ narratives in my master thesis entitled “Mending the Shards: Women’s Experiences During and After the Ambon Conflict”.

The conference then declared a Baku Declaration which among others voices a call on all governments to increase the participation of women in all spheres of decision-making, as well as in peace- building processes with a special emphasis on conflict resolution, and an agreement to promote the role of women in mass media aiming at valorizing their image as well as their achievements in ensuring the intercultural dialogue.

I hope these voices will be heard by all parties in all over the world for not putting women aside from peacebuilding processes and dialogues. Here are some lines from my thesis that proposing the same opinion. It came to my thought that it might be valuable to try this effort in the case of FPI-Ahmadiyah. Who knows..

During the conflict in Ambon, women were able to quickly mobilize their networks and strengths in giving pressure to all parties to stop the violent conflict. Tireless campaign to stop violence was conducted throughout the years by women from different ethnics and religion. Through prayer meetings, reconciliation, ceremonies, peace marches, they took a political stand against violence.

Women also bridge Muslims and Christians. Women, through their profession, also play big part in peace-building. As an activist, lawyer, paramedics, teacher, priest, journalist, or in any type of profession, women in Ambon has proved that they did maximum actions in serving the people or victims that need their hands. Women helped children, widows, widowers, handicapped victims, displaced persons, families, etc to heal their deep-rooted trauma and regain their courage to start their lives. In short, women implement the peace negotiations and rebuild community cohesion.

During the peace negotiations however, women were overlooked. Despite their significant role during tensions periods, out of 70 participants of the Malino Peace negotiations, only three women were invited.

It has to be highlighted that women’s contributions to peacebuilding and their unique experiences of violence signal the need for mainstreaming gender in all conflict prevention and peacebuilding efforts. Women have to be involved in formal political peace processes. Excluding woman groups from such efforts would mean that the government fails to see capacity of women in peace building. It is evident that in conflict and post-conflict situation women play major role in helping the survivors, among other by providing foods and shelters, but many would normally overlook their simple and non-heroic contributions.

Wednesday, June 11, 2008

Hujan Bulan Juni

Siang tadi saya menerima kiriman puisi dari suami tercinta. Senang karna Wahyu sering mengingatkan tentang hujan di bulan Juni. Ya, sekarang sudah masuk bulan Juni dan kami berdua kerap membicarakan Sapardi Djoko Damono dengan “Hujan Bulan Juni”nya. Indah sekali puisi ini. Thanks my beb.

Saya selalu senang menikmati hujan yang jatuh secara berirama ke bumi. Bau tanah dan rumput yang menebar setelah hujan usai adalah sensasi romantis yang tak bisa terjabarkan dengan kata. Menatap hujan sambil menghirup aroma romantis bumi dari tepi jendela bisa memperkaya hati ini dengan kuntum-kuntum bunga.

Hujan Bulan Juni

(Sapardi Djoko Damono)

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu


Monday, June 09, 2008

Menari dan Bernyanyilah Papa, seperti Daun Gugur

Sejak Papa mejalani perawatan cuci ginjal dengan metode CAPD (Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis) di bulan September 2007, kondisinya semakin lemah. Papa berulangkali harus dirawat di RS bahkan sempat mengalami kritis di hari Jumat dan Sabtu lalu, 30-31 Mei 2008. Tensinya yang naik drastis menyebabkan Papa sempat meronta kesakitan dan kehilangan kesadaran. Kami semua hanya bisa memegang tangan dan kaki Papa yang meronta, sambil menangis tak henti dan berusaha membujuk Papa agar tenang. Tapi rontaan Papa sangat masuk akal. Siapa kiranya yang bisa menahan sakit sedemikian rupa dengan tensi 256/100? Bahkan banyak yang mengira Papa sudah tidak bisa bertahan. Minggu, 1 Juni, Papa sadar tapi tidak ingat apa yang sudah terjadi di hari kemarin…lalu sorenya kami meminta gereja untuk bisa mengadakan Perjamuan Kudus untuk Papa dan kami sekeluarga.

Sedih melihat kondisi Papa yang begitu lemah, tapi juga terhibur dengan semangat Papa yang masih sedemikian besar. Di Senin siang, 2 Juni, saya sempat melihat mata Papa berair, lalu bertanya “Papa nangis?” dan dijawab olehnya, “Ah, gak mungkin aku nangis..kan Tuhan sudah kasih kesempatan untuk melanjutkan hidup ini. Ini anugerah”. Hah, Papaku selalu bijaksana. Saya hanya merespon jawabannya itu dengan berkali-kali mencium keningnya. Lalu saya teringat, semangat hidup Papa ini terekam di puisinya yang berjudul “Aku Ingin Menari Seperti Daun Gugur”. Ya, Papa seperti daun gugur itu, ia belum mau pergi sebelum menari seindah mungkin dan bernyanyi semerdu mungkin. Sebenarnya persembahan Papa sudah sedemikian banyak untuk kami—anak, menantu, istri, cucu, kelompok marga, kampus tempat Papa mengajar, dan terlebih untuk gereja—GKPI kecintaannya, dan semua persembahannya indah. Namun buat Papa, masih ada banyak mimpi yang ingin ia raih dan persembahkan.

Saat ini, Papa masih menjalani pengobatan di RS. Masih tergolek lemah dan sering uring-uringan dengan cekukan yang kerap mengganggu—saya baru tahu bahwa orang yang sakit ginjal memang sering didera cekukan. Tadi pagi saat menemani Papa bersaat teduh, ia tersenyum, lagi-lagi mencoba menunjukkan semangatnya yang masih membara. Ya Papa, menari dan bernyanyilah. Puaskanlah hatimu mengejar yang ingin kau lakukan, walaupun keterbatasan mengekangmu demikian dahsyat. Tapi Papa juga harus mau rehat jika sudah merasa letih. Kami sudah dianugerahi limpahan ajaranmu yang selalu berlandaskan kasih. We love U so much, Pa!

Ini adalah puisi Papa “Aku Ingin Menari Seperti Daun Gugur” (dan terjemahan bebasnya), diambil dari kumpulan puisinya yang diberi judul “Permata Kehidupan”.

Aku Ingin Menari Seperti Daun Gugur

Oleh: MS Hutagalung

Kuperhatikan sebatang pohon

Banyak daunnya yang rontok

Sebelum waktunya

Berserakan di tanah

Ada selembar daun

Yang lepas sendiri dari ranting

Karena cukup tua

Daun itu meliuk-liuk di udara

Seperti menari-nari

Segan jatuh ke bumi

Sebelum memamerkan tarian

Dan warnanya yang coklat kekuning-kuningan

Walaupun akhirnya jatuh ke tanah

Tempat asalnya

Akupun ingin seperti daun itu

Menarikan tarian yang paling indah

Atau menyanyikan sebuah lagu paling merdu

Sebelum jasadku kembali bersatu dengan tanah

Sebagai ucapan terima kasih kepada Pemberi Hidup

(Rawamangun, Akhir Mei 2007)

I want to Dance like a Falling Leaf

I saw a tree

Lots of its leaves were falling

Before their time

Scattered about on the ground

There was a single leaf

Off its branch

As its time was end

It was moving in the air

Like dancing

Feeling reluctant to land on earth

Before showing its dancing performance

And its yellowish brown color

Although finally down on earth

Where it belongs

I want to be like that falling leaf

Dancing the most beautiful dance

Singing the most melodious song

Before my body returns to become one with earth

As the expression of gratitude towards

The Maker of Lives

(Rawamangun, end of May 2007)

Wednesday, June 04, 2008

Tears and Rain


TEARS AND RAIN

(by James Blunt)

How I wish I could surrender my soul;
Shed the clothes that become my skin;
See the liar that burns within my needing.
How I wish I'd chosen darkness from cold.
How I wish I had screamed out loud,
Instead I've found no meaning.

I guess it's time I run far, far away; find comfort in pain,
All pleasure's the same: it just keeps me from trouble.
Hides my true shape, like Dorian Gray.
I've heard what they say, but I'm not here for trouble.
It's more than just words: it's just tears and rain.

How I wish I could walk through the doors of my mind;
Hold memory close at hand,
Help me understand the years.
How I wish I could choose between Heaven and Hell.
How I wish I would save my soul.
I'm so cold from fear.

I guess it's time I run far, far away; find comfort in pain,
All pleasure's the same: it just keeps me from trouble.
Hides my true shape, like Dorian Gray.
I've heard what they say, but I'm not here for trouble.
Far, far away; find comfort in pain.
All pleasure's the same: it just keeps me from trouble.
It's more than just words: it's just tears and rain.

Tuesday, December 04, 2007

Pencapaian yang Indah

Beberapa hari yang lalu ada kiriman dari Department of Social Anthropology, University of Bergen (Norway)--tempat saya bersekolah. Isinya adalah ijazah Master of Philosophy (MPhil) atas nama saya, dan scarf juga pin kampus khas tanda kelulusan. Wah, hati saya berbunga-bunga dan saya langsung mengingat betapa indahnya hasil dari kerja keras saya selama ini. Masuk dalam program studi Anthropology of Development di Agustus 2004, seharusnya saya lulus di tahun 2006 karena program ini memang dijadwalkan berjalan dua tahun. Tapi karena sifat malas saya, lalu sempat mengalami fase buntu dalam menyelesaikan tesis, mengakibatkan kelulusan saya pun tertunda. Sayang memang, padahal saya sudah menghadapi seluruh mata kuliah dan ujian yang berat, dan tentu saja sudah selesai melakukan field work selama 5 bulan di Ambon. Saya malah pulang di bulan Agustus 2006 dengan membawa tanggungjawab yang belum selesai.

Kembali ke Jakarta membuat saya semakin malas menyentuh draft tesis dan lebih sibuk mencari kerja. Jelas saja hampir semua lembaga yang memanggil saya wawancara terhenti menerima saya yang status sekolahnya belum jelas. Syukurlah akhirnya ada lembaga penelitian lokal yang bersedia menerima saya meskipun berstatus mahasiswa S2 yang belum kunjung lulus. Mereka yakin saya pasti akan menyelesaikan tesis saya.

Di bulan Januari 2007 ada pengumuman dari kampus bahwa tenggat waktu untuk penyelesaian tesis adalah di bulan Mei 2007, barulah saya benar-benar tersadar bahwa selama ini sudah begitu banyak waktu yang saya sia-siakan. Kebiasaan buruk saya sebagai dateliners (haha) terlalu melekat selama ini. Mulai awal tahun itulah saya benar-benar baru mulai melanjutkan penulisan tesis. Sulit, karena saya melakukannya sambil bekerja. Tapi Prof. Olaf Smedal, pembimbing saya, tak putus-putusnya memberi saya semangat dengan kalimat khasnya, "Just do it, Stella. You can make it!" Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil leave without pay dari kantor selama 2 bulan (pertengahan Maret-pertengahan Mei).

Sepanjang dua bulan itulah saya mengerahkan seluruh perhatian dan tenaga hanya pada penyelesaian tesis. Papa dan mama yang paling khawatir, tapi tetap selalu mengiringi dengan doa tentu saja. Wahyu (pacar yang saat ini adalah suami saya) setiap hari ikut membantu meng-edit tulisan saya bahkan ikut membantu menulis Bab 3 dan bagian Kesimpulan dalam tesis (Thanks so much beb!). Keluarga dan teman-teman juga banyak sekali yang membantu dalam kapasitas mereka masing-masing. Dan tesis saya berjudul "Mending the Shards: Women's Experiences During and After the Ambon Conflict" pun selesai di bulan Mei 2007.

Lalu di bulan Juni, Prof. Olaf mengabarkan bahwa tesis saya lulus dan ia mengatakan bahwa para penguji (Prof. Ingrid Rudie, Prof. Leif Manger dan Prof. Olaf sendiri) memberi komentar: "Your thesis was evaluated as a genuine contribution to an understanding of a highly complex conflict situation. The sections dealing with the historical and cultural backdrop were seen as very good, and your documentation of the various contributions to reconciliation by women of all faiths and from a wide variety of social, economic, political and economic backgrounds was judged as impressive." Walaupun memang masih banyak sekali ketidaksempurnaan, tapi saya sangat bersyukur dan bisa bernafas lega. Ternyata jika kita mau melakukannya dan berusaha keras (just do it) pasti hasilnyapun akan indah.

Pencapaian indah lainnya yang saya alami di tahun 2007 adalah pernikahan saya dengan Wahyu di bulan Juli. Tujuh tahun kami berpacaran. Dalam tujuh tahun itu banyak terjadi pasang-surut. Banyak keindahan, tapi juga berbalut banyak permasalahan. Tidak hanya dipersoalkan terkait perbedaan agama, tapi juga ada beragam keruwetan lainnya. Dan akhirnya atas dukungan papa, keluarga pihak Wahyu dan teman-teman, kita bisa menjalani pernikahan di bulan Juli 2007. Ternyata usaha keras kami berbuah indah di saat itu. Terbayang perjalanan kami yang panjang dan penuh perjuangan menuju hari pernikahan. Banyak pihak turut bersyukur, bahkan mama dan keluarga besar saya datang dan bersukacita dalam ritual acara pernikahan kami.

Kedua pencapaian indah ini bagi saya adalah hasil kerja keras, ketekunan dan doa. Memang saya tidak bisa berhenti dengan rasa puas karena ada begitu banyak tanggungjawab melekat pada kedua pencapaian ini. Ini baru tahap awal bagi saya menjadi seorang antropolog, juga tahap awal bagi saya dan suami dalam memulai kehidupan rumah tangga kami. Pasti akan banyak tantangan di depan, ada banyak hal-hal lain yang harus dicapai. Dan masih diperlukan proses kerja keras yang lebih panjang. Saya akan terus mengulangi ucapan Pak Olaf, "just do it, you can make it!" Pasti!